Category Archives: pieces of me

Welcome baby Zen

Zen Netriva Atmawarin, Jogjakarta 19 Juli 2017. 

Yesss…tebakan saya bener kalo Gita dan mas Ganis akan punya bayi laki-laki. huahahahahahaha…seneng-seneng terharu. 

Gak nyangka aja teman kuliah, teman nonton band, teman makan, bahkan teman kerja udah jadi seorang ibu. Kata orang sih perempuan itu lahirnya tiga kali, pertama ketika lahir, kedua ketika menikah dan ketiga ketika melahirkan. So, selamat Gita sudah melewati tiga siklus kehidupan. 

Untuk Zen, selamat datang di dunia adik kecil, kelahiran adalah sebuah keajaiban semesta, dan kau adalah keajaiban kecil bagi orangtuamu, dan kelak kau akan jadi keajaiban bagi semesta. 

Satu lagi, plis jangan panggil tante ya, tapi bibi Irine. Ini sudah jadi kesepakatan yang sah antara bibi Irine dan mamamu, kalo gak dipanggil bibi, liat aja pipimu akan habis saya cium…

Ketika Chester membuat saya bertahan

everyone has their own battle

Pagi tadi lini masa diramaikan dengan berita kematian vokalis Linkin Park, Chester Bennington. Chester dikabarkan mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri tepat di hari ulangtahun sahabatnya, Chris Cornell. 

Tentang bunuh diri

Menurut WHO, tahun 2015 ada sembilan juta kasus depresi yang terjadi di Indonesia. Jumlah ini menempatkan Indonesia sebagai negara kedua dengan kasus kejiwaan tertinggi di Asia Tenggara setelah India. Sayangnya belum ada penanganan yang benar-benar serius meski pemerintah telah memasukkan layanan psikiatri kedalam komponen yang dibiayao oleh BPJS, termasuk usaha melawan stigma negatif dari penderita gangguan kejiwaan. 

Kematian Chester Bennington kembali mengingatkan saya tentang keinginan untuk bunuh diri. Chester yang memiliki riwayat depresi akibat kekerasan yang dialami sejak kecil, ketergantungan alkohol dan obat-obat terlarang, sangat berbeda dengan saya yang tumbuh di keluarga yang normal dan menjalani kehidupan yang baik-baik saja. 

Tapi itu terlihat dari luar saja. Pernah ada satu masalah yang membuat saya sangat terpukul, untuk pertama kali saya melihat keluarga saya pelan-pelan hancur. Tiap malam mendengar ibu dan bapak bertengkar, adik yang menangis dengan sorot mata takut, dan saya yang pelan-pelan menjadi kakak yang pengecut. 

Awalnya saya malu untuk menceritakan masalah saya bahkan pada teman terdekat, hari-hari saya gunakan untuk melakukan hal-hal tak berguna, sampai kemudian saya memutuskan untuk ‘tinggal’ demi adik-adik. Saat itu saya pikir jika saya pergi, mungkin saya akan bebas dari semua masalah, tapi tidak bagi adik-adik saya, mereka akan mengalami sakit yang luar biasa hebat dan saya akan jadi pengecut selamanya. 

Saya memutuskan untuk tinggal. Chester memilih untuk pergi, tapi saya tidak mengatakan bahwa dia pengecut. Lagi-lagi tiap orang memiliki ‘pertarungannya’ masing-masing. Chester, selama hidupnya berperang melawan banyak hal, melawan musuh yang timbul dari dirinya. Dia menceritakan perjuangannya lewat karyanya, lewat lirik-lirik lagunya, dan akhirnya dia menyerah. 

Saya tumbuh bersama Linkin Park, saya merasakan emosi dan belajar untuk bertahan dengan lagu-lagunya. Saya memilih untuk bertahan. 

Setelah saya memutuskan bertahan

Bukan berarti saya menjadi orang paling hebat, tidak. Sampai sekarang saya masih terus bertahan, dengan segala ketakutan dan luka. Saya belajar menghidupi hidup terus menerus, membuat diri ini semakin memiliki jiwa-jiwa manusia. Kemudian saya mengetahui bahwa banyak orang yang berniat untuk bunuh diri bahkan seseorang yang hingga kini masih berada dalam hati dan pikiran saya. 

Suatu sore dia menceritakan masa kecil dan kehidupannya, sampai dia mengucapkan sebuah keinginan seandainya saja dia tidak pernah dilahirkan. Jika saja dia tau, saat dia mengucapkan kalimat itu ingin rasanya saya berteriak didepannya dan mengatakan “jangan jadi pengecut, karna aku pernah jadi pengecut!” 

Tapi kemudian saya sadar bahwa dia membawa luka masa lalu dan dia bertahan hingga saat ini itu sudah hebat. Saya berkata padanya bahwa hidup jangan sekedar dijalani, tapi juga dihidupi. Cara terbaik adalah memaafkan, seperti saya yang memaafkan diri saya sendiri dan memaafkan keluarga saya, biar bagaimanapun karena mereka saya ada dan mereka adalah alasan saya untuk terus bertahan dan tidak pernah menyerah. 

Saya harap dia pun tidak pernah menyerah. Tidak akan pernah menyerah!

Sama seperti siapa pun yang membaca tulisan saya ini, carilah satu alasan diantara ribuan alasan yang membuat kalian ingin bunuh diri. Satu alasan yang bisa membuat kalian bertahan. Percayalah satu alasan itu sudah cukup. Setelahnya kalian akan mengerti bahwa hidup kalian itu sangat bermakna sekali, bahkan kalian adalah seseorang yang amat berarti bagi orang lain, bahwa diantara keputusasaan itu ada kalian yang bisa jadi harapan buat orang lain. 

Satu cara yang sering saya lakukan kepada – sebut saja mantan pacar – adalah dengan mengucapkan terimakasih. Terimakasih sudah hadir dihidupku, terimakasih sudah bersedia jalan bersisian bersama. Bahkan ketika dia memutuskan untuk tidak lagi berjalan beriringan, saya masih mengucapkan terimakasih. Itu cara saya agar dia bertahan untuk tetap mempertahankan hidupnya, agar dia tidak membiarkan pikiran-pikiran itu bermain dikepalanya. 

Sedang untuk saya, terimakasih adalah bentuk penghargaan terhadap diri sendiri, berterimakasih juga menjadi alasan untuk melihat senyum orang yang kita sayang. Mengucapkan terimakasih pada semesta juga mengajarkan saya menjadi kakak yang baik, kakak yang kuat agar bisa menjadi sandaran bagi adik-adiknya. ​

Chester mengajarkan kepada saya jika lelah maka beristirahatlah, tapi jangan berhenti, meski kemudian Chester memilih untuk berhenti dan berjuang bersama sahabatnya di kehidupan yang lain. 

Sekali lagi, jika kalian punya masalah apapun itu jangan pernah menyerah, dan jika kalian malu untuk bercerita dengan teman mengenai masalah-masalah yang kalian hadapi, cobalah menghubungi hotline bunuh diri yang dikelola oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia di 500-454. Ada juga LSM Jangan Bunuh Diri yang bisa dihubungi melalui email: janganbunuhdiri@yahoo.com, telepon: 021 9696 9293

Kalian juga bisa berbicara apa saja dengan saya melalui irine.wardhanie@gmail.com mari berbincang-bincang, mari bertahan bersama. 


selamat jalan Chester…you’ll be missed! 

Menuju Oktober

Oktober masih dua bulan lagi, dan saya udah sibuk bikin rencana macam-macam…tenang ini bukan rencana melepas status jomblo apalagi menuju pelaminan….jauuuuuhhhh…..yaolooohhhh *lalu peluk guling erat-erat* okay back to the topic. Rencananya Oktober nanti saya akan melakukan perjalan mencari kitab suci ke utara…gak ding canda, ya kali Sun Go Kong. 

Rencana dimulai dengan: 

1. kepoin harga tiket, meski tergolong murah dibandingkan ke Papua tetap aja harus pintar-pintar beli tiket. Karena diskon adalah koentji!!

2. belajar ambil gambar dengan baik dan benar. Keuntungannya kerja di TV ya gitu, banyak yang rela didaulat dengan semena-mena untuk ngajarin saya soal komposisi gambar. Daaann ngomong-ngomong soal pengambilan gambar khan pasti butuh alat yang mumpuni, awalnya mo beli kamera mirrorless tapi pas cek harganya duuuhh *pura-pura pingsan aja deh* jadi saya bulatkan tekad dengan penuh keikhlasan yang hakiki untuk menggunakan hape aja. Untungnya hape kualitasnya lumayan mendukunglah. Sekarang tinggal beli kebutuhan pendukungnya. Corrcam (bosnya para kameramen) kemudian ‘meracuni’ saya dengan beberapa jenis peralatan yang amat sangat berguna dibawa trekking. Syarat alat tersebut harus bisa masuk kedalam tas, ringan, dan gak ribet ngrakitnya. Eh dapaaatt doong…langsung kalap belanja…kalo udah tiba barangnya saya unboxing  deh biar ala-ala blogger kekinian

3.  Tas carrier yang mumpuni. Ini maksudnya yang nyaman dan kuat, soalnya saya mempersiapkan perjalanan kurang lebih 14 hari jadi si tas ini harus betah menggantung di bahu tapi gak bikin pegel. Sebenarnya saya sudah ada carrier yang cukup nyaman, tapi masih nyari-nyari yang lain sebagai opsi dengan catatan harga tak terlalu mahal

4. Baju hangat termasuk jaket, penutup kepala, sarung tangan dan sepatu. Udah beli beberapa cuma kalo kurang bisa beli di lokasi aja karna menurut beberapa informasi, didaerah yang akan saya datangi punya produk-produk trekking yang murah dan kualitasnya bagus. Ada satu toko yang cukup terkenal dari segi harga dan kualitas yang jadi rekomendasi banyak orang. Baju yang akan dibawa dari Indonesia gak usah banyak-banyak, paling 3 baju, 2 celana, dan baju dalam. Saya masih cari bra sekali pakai, ada gak ya? hahahhaha

5. OLAHRAGA… ini penting brooo…. Paling gak latian lari tiap sore dan rutin latian yoga biar napasnya teratur, tapi apa daya hingga tanggal saya menulis blog ini, semua hanya wacana…. niatnya sih awal bulan aja deh mulai olahraga rutinnya. Doakan saya kuat yaaakkk, sekuat menanti mantan untuk kembali!

6. Bikin plan cadangan. Perjalanan kali ini bisa dibilang cukup ambisius, kenapa? karena saya jalan sendiri cuuuyyyy….hahahahah… uji nyali banget deh ini. Tapi saya tetap harus mengukur diri sendiri, gak mau khan tiba-tiba muncul berita “seorang solo traveller ditemukan membeku kedalam kubangan kenangan karena gak bisa move on” hahahahhaha canda yaaa ini candaaaa lhooo.. Don’t take it seriously!

7. Bismillah aja semoga cuti bisa disetujui. amiiiiinnnnn!!!

so October see you soon!!

Bullying

Bullying atau perundungan lagi marak saat ini. Sebenarnya ini bukan hal baru cuma gara-gara media sosial aja kasus ini banyak menyita perhatian. Coba deh dijeberin semua orang pasti pernah menjadi pelaku dan korban bullying, termasuk saya. Saya pernah berada di posisi pelaku dan di posisi korban.

Sebagai korban bullying pertama kali saya alami waktu SD, sampai sekarang sebel banget sama kakak kelas yang namanya saya tidak tau. Status saya waktu itu anak pindahan, karena sering banget ngikutin bapak yang sebagai abdi negara pindah-pindah jadi mau gak mau ya sekolah pun pindah-pindah. Nah suatu hari si kakak kelas ini dan gengnya (halah masih SD aja udah ngegeng!) isengin saya, mereka nempelin kotoran ayam di seragam sekolah saya. Asli bau paraaahhh!! untung udah jam terakhir sekolah dan saya bergegas pulang ke rumah nenek. Ya waktu itu saya tinggal di rumah nenek di Makassar. Bude pun langsung mencuci seragam saya karena bau banget. Sejak saat itu saya punya perasaan marah dengan kakak kelas saya, tapi karena cuma beberapa bulan aja di Makassar jadi saya gak pernah tau namanya itu orang siapa, pun kalo tau buat apa ya, toh gak bisa diguna-gunain juga.

Masih dengan status anak pindahan, saya  pun pindah ke sekolah terpencil di Manado. Disini pun awalnya saya di bully dengan tidak diberikan tempat duduk. Setiap saya mau duduk pasti disuruh minggir. Yaaa sekolah ini juga kekurangan bangku sih namanya juga SD Inpres, tapi gak pake digeser-geser sampai  mesti berdiri juga kaliiii….karena sebel saya pun mengadu ke ibu perihal tidak dapat tempat duduk. Oh ya di keluarga saya ada doktrin yang mengatakan bahwa duduk dibelakang adalah tempat duduk setan, jadiiiii saya yang penakut ini selalu harus duduk didepan dengan cara apapun. Lagian emang enak didepan sih, gak berisik.

Sampai suatu hari saya ke sekolah dan dapat tempat duduk didepan, plus teman-teman tiba-tiba berubah jadi baik. Kenapa ya? Saya aja heran sampai sekarang. Oh ya satu lagi, mereka suka sekali berbagi makanan dengan saya, padahal saya bawa bekal dan karena gak pernah dikasih uang saku jadinya mereka selalu beliin saya jajanan. Ibu selalu tau kalo saya jajan sembarangan pasti sakit perut dan sampai sekarang itu sering saya rasakan. Duuh perut manja amat sih gak suka makanan yang agak hmmm agak kurang bersih…

Itu tergolong korban bully gak? bagi saya iya, soalnya ada perasaan sedih, marah, gak ada teman, pokoknya paling menderita sedunialah. Perasaan itu kadang masih saya rasakan daaaaaannnnn saya pun menjadi pelaku bullying. Jujur ketika menuliskan bagian ini saya merasa amat malu dan kecewa pada diri sendiri. Kenapa? karena ketika menjadi pelaku bullying, perasaan yang ada justru menyesal. Serius sampai sekarang jika saya ada kesempatan saya ingin bertemu dengan teman-teman yang pernah saya bully dari SMP hingga SMA, untuk minta maaf. Tapi saya gak punya nyali untuk melakukannya.

Oke, sewaktu menjadi pelaku bullying apa yang saya rasakan? puas? tidak juga. Hanya karena ingin diterima oleh lingkungan dan teman-teman, saya mengikuti apa yang mereka lakukan, meski saya tidak pernah menyerang secara fisik tapi ucapan-ucapan yang saya lontarkan itu pun pasti menyakitkan, sikap membiarkan dan melihat para korban ketika di bully pun itu salah. Jelas salah.

Saya bukan tergolong siswa yang pintar disekolah, tapi sering masuk kelas unggulan iya, masuk 10 besar pernah beberapa kali, jadi wakil sekolah dibeberapa perlombaan pernah, duduk di OSIS iya, ikut ekskul paling bergengsi dan bisa mewakili sekolah pun pernah, punya teman yang banyak, tergolong anak gaul sekolah. Tapi itu semua belum cukup. Butuh pengakuan lebih dan melakukan bully terhadap teman lain adalah salah satu bentuk pengakuan yang dicari.

Kalau ditanya pengakuan macam apa sih? saya juga tidak bisa jawab. Mungkin pengakuan untuk jadi siswi terbaik, terkece, terkeren, ter…….lainnya, atau mungkin jadi siswi yang paling ditakuti atau disegani. Entahlah!

Tapi semakin dewasa saya sadar itu salaaaaaahhh bangeeetttt..makanya saya bilang tadi jika punya kesempatan saya ingin meminta maaf pada teman-teman yang pernah saya singgung perasaannya.

Ketika saya pindah sekolah (lagi) saya pun berjanji pada diri sendiri bahwa saya ingin benar-benar memperbaiki diri dengan cara menghargai siapa pun, mendengarkan apapun yang mereka ceritakan, karena kita tidak pernah tau apa yang harus mereka lalui hingga bisa bertahan menghadapi hari, bertahan untuk tetap waras, bertahan untuk mempertahankan dan memperjuangkan apa yang mereka inginkan.

Masing-masing orang punya keterbatasan, dan setiap orang adalah pejuang bagi dirinya sendiri. Saya pun pelan-pelan belajar hal itu, dan untungnya di lingkungan sekolah yang baru, saya bisa mendapatkan pelajaran itu semua. Saya tidak lagi berpikir bagaimana menjadi siswi yang keren, yang jago dalam banyak hal, yang gaul, yang punya teman banyak dan lainnya. Saya hanya berpikir bagaimana kemudian menjadi berarti buat orang lain, sekolah yang bener, kuliah dan mengejar cita-cita yang Alhamdulillah yaa kesampaian juga cita-cita saya dan pekerjaan saya sekarang ini membutuhkan semua perasaan menghargai tanpa menilai secara sepihak.

Keputusan pihak sekolah untuk mengeluarkan mahasiswa dan siswa yang melakukan bully kepada kawannya adalah keputusan yang salah. Saya lebih suka jika mereka dihukum untuk kerja sosial misalnya, daripada dikeluarkan. Karena, ketika mereka dikeluarkan tidak ada efek jera, yang ada hanya perasaan dendam dan kemudian mereka bisa saja melakukan kekerasan dilingkungan baru. Justru dengan dimaafkan maka mereka akan menjadi malu seperti saya, dan perasaan malu itu akan terus hidup dalam diri mereka dan memaksa mereka untuk menjadi orang yang jauh lebih baik agar tak terus menerus didera perasaan malu.

Ada perasaan duuhh kalau kelak saya punya anak mending home schooling aja deh daripada mereka jadi korban atau pelaku bullying. Tapi kemudian saya sadar bahwa anak-anak butuh diajarkan berbagai perasaan agar mekanisme pertahanan diri dan mental mereka bisa tumbuh. Saya sebagai orangtua akan menceritakan ‘kenakalan-kenakalan’ yang pernah saya lakukan dulu sewaktu remaja. Ini kenapa tiba-tiba nglantur soal anak deh…!!

Sebagai ‘penebusan rasa bersalah’ yang sampai saat ini saya rasakan, saya banyak melakukan kegiatan sosial. Banyak orang menganggap itu keren, padahal itu katarsis perasaan saja, bahwa saya pernah melakukan sebuah tindakan tidak terpuji. Bahkan kerja-kerja sosial yang saya lakukan pun belum cukup menghilangkan perasaan bersalah yang saya rasakan. Sampai sekarang saya masih bertanya-tanya bagaimana nasib teman-teman yang pernah saya bully? bagaimana keadaan mereka? apa mereka baik-baik saja? pertanyaan-pertanyaan itu menghantui saya, bukan cuma kenangan bersama mantan aja yang menghantui ya…

Anyway, Merasa keren dengan melakukan kekerasan itu tidak keren sama sekali. Percaya deh!

Please stop bullying! lebih baik energinya dipake untuk ikut paduan suara atau paskibra, sama-sama capek tapi jauh lebih bermanfaat, atau ikutan pramuka belajar bahasa sandi berguna tuh untuk kirim kode ke gebetan atau mantan!

Salam,

 

Irine

 

akhir-akhir ini ngapain aja?

hmm akhir-akhir ini saya ngapain aja ya selain makan, tidur dan bernafas? buaaannyyyaaaakkkkkk……..selain kerjaan nanya-nanya orang, saya juga kerjaannya masih mikirin kamu *lalu liatin foto mantan sambil minum es milo* *kemudian galau* gak ding, canda..eh beneran juga gak masalah khan!

Jadi kerjaan saya akhir-akhir ini adalah berbuat kenekatan dengan beberapa orang kawan yang dengan jumawanya menyebut diri sebagai Elege Inone, itu bahasa Lani yang kalo diterjemahkan dalam bahasa Indonesia artinya ‘suara anak’

Terbentuknya Elege Inone dimulai dari percakapan saya dan Rosa Dahlia, perempuan yang hobinya jadi guru di pedalaman Papua. Dia merasa galau, entah kenapa saya selalu bertemu dengan orang-orang galau, apakah saya ini “penarik para galau”? entah! Singkat cerita, dari kegalauan duo galau yang gak nyambung, kami lalu menarik seorang kawan, yang bernama Galuh dan ternyata lagi galau juga dengan kehidupan Jakarta, setidaknya dikelompok ini ada orang yang galaunya agak mutu dikit. Tidak cukup dengan sosok bernama Galuh, butuh seorang lagi, akhirnya ada madam Tata, seorang penjual tas yang bisa jadi kamus referensi soal film-film Indonesia. Nah madam ini juga lagi galau dengan kehidupannya. Klop khaaann..ngumpul deh para perempuan galau.

Seiring berjalannya waktu, kumpulan para galau ini merasa butuh menambah ‘pasukan’ lagi, akhirnya ada pak Ferry yang merupakan guru di Papua, lalu ada mba Plap yang kemudian namanya diubah jadi bunda, dan ada mami Chend, tanpa dia kita gak bisa foya-foya bayar uang sekolah..hahahha

Singkat cerita Elege Inone ini akhirnya berhasil membawa Yesman, Endison dan Demite ke Jogja untuk melanjutkan sekolahnya.

Cerita lengkapnya nanti aja yaa…saya mau balik ke kerjaan yang cuma nanya-nanya aja….

bhaaayyy!!!