Penghujung 2017

2017 adalah tahun tentang pertemuan, pertanyaan, jawaban, dan perpisahan. Tentang ragu dan kepastian. Tahun dimana harapan bertebaran; ada yang terwujud dan ada yang mesti dikubur. 2017 adalah awal bagi sebuah akhir.

Ikut-ikutan Best nine of Instagram 2017  biar kayak rangorang 🙂 dan saya sadar di kesembilan foto itu semua tentang saya (yaiyalah masa tentang semut yang berbisik) dan tentang transformasi saya menjadi ‘saya’ juga tentang rumah baru (Elege Inone) yang saya dan teman-teman bangun dari sebuah mimpi, harapan, ambisi, egois dan kasih sayang (duuh bahasanya)

Kenapa 2017 adalah tahun yang sangat membekas? sebenarnya setiap tahun bagi saya punya cerita yang unik dan memberi kenangan, tapi entah kenapa di 2017 seperti sebuah momen untuk saya, momen untuk berkembang dan momen menjadi ‘dewasa’ seutuhnya. 

My first live report

Yup, di tahun 2017 untuk pertama kalinya merasakan degdegannya membawakan live report untuk program mudik. Hampir lebih dari sebulan berlatih intonasi, pelafalan, ekspresi, gesture dan paling penting melatih diri untuk tetap tenang, meski kaki gemetaran hebat ketika sudah di sorot kamera. Wejangan yang selalu diingat adalah “Penonton gak peduli apa yang kamu rasakan, yang mereka mau adalah kamu berikan informasi yang mereka butuh.” Sadis but that’s true right? 

Meski sudah melalui momen-momen menegangkan kala live report pertama kali, saya masih sering merasa gugup sampai sekarang tapi practice makes perfect dan jam terbang pun berpengaruh. Pokoknya lakukan yang terbaik dan beritakan hal yang benar, itu kunci utama jadi jurnalis, bukan karena keren-kerenan masuk tv yaakk..

Entah lucu atau terharu, keluarga adalah kritikus terbaik saya, mulai dari pakaian, make up, bahkan konten dan cara saya ngomong pun dikritik oleh mereka dan itu sangat berarti, plus dirumah sekarang pasang tv kabel demi menonton saya di tv. Fix harusnya saya dadah ke kamera sambil bilang “maaakk anakmu masuk tipiii..” 

Semoga tahun-tahun yang akan datang, saya bisa mencapai target menjadi wartawan yang membuat karya-karya yang berguna bagi manusia dan sekitarnya…amiiiinnnn… *

Elege Inone
Di pertengahan tahun 2017, saya dan beberapa orang teman sepakat untuk menceburkan diri membentuk sebuah komunitas yang fokus pada pendidikan anak-anak dari Papua. Ada euforia yang dirasakan ketika pontang-panting mencari donatur, konsep komunitas, mencari sekolah hingga akhirnya ketiga anak luar biasa itu; Yesman, Endison dan Demite menginjakkan kaki di pulau Jawa. Senang luar biasa karena tidak menyangka bisa menceburkan diri pada sesuatu hal yang sesaat menimbulkan rasa takut dan ragu. Benar gak sih apa yang saya lakukan? bagaimana jika saya hanya memberi harapan palsu, mimpi kosong pada ketiga anak itu? Pertanyaan itu yang menggema di kepala saya, hingga akhirnya semesta dan Sang Penguasa mengirimkan orang-orang baik untuk ambil bagian dari komunitas ini. 

Saya dan kawan-kawan sepakat memberi nama Elege Inone yang berarti Suara Anak. Ini merupakan bahasa Lani, salah satu suku di Poga, Papua. Di Elege Inone saya tak sekedar mengirim anak-anak untuk sekolah di Jogja, lebih dari itu, saya mendapatkan ‘rumah’ baru dan keluarga baru. Saya merasa hidup saya yang mulanya hanya seputar saya dan pekerjaan (dan tentu saja percintaan) yang kadang gitu-gitu aja; kemudian menjadi berarti. Bukan bermaksud untuk sombong, tapi di Elege Inone saya merasa kembali hidup, mendapatkan energi positif setiap saat, dan jujur dari mereka bertiga saya kembali belajar untuk memahami diri sendiri, dan belajar memahami rahasia semesta. 

Life begin when you are 30

Yup, banyak yang bilang jika kehidupan sebenarnya dimulai ketika mencapai usia 30 tahun and I believe that. Di tahun ini saya menyentuh angka tersebut, dan Thank God for everything that You have given to me. Sekali lagi saya merasa bersyukur bahwa saya sudah mendapat apa yang saya inginkan; bekerja di sebuah kantor berita yang saya inginkan, merintis sebuah komunitas, berbuat lebih banyak tidak hanya untuk diri sendiri tapi untuk orang lain, keluarga yang tetap utuh dan bertahan meski badai masih sering singgah, teman yang terus bertambah disetiap hari. Itu semua sudah cukup bagi saya. 


Another beginning for ending story

Di tahun ini saya merasa terlalu sering menangis, terlalu banyak berharap, terlalu egois pada diri sendiri, terlalu berani melangkah, dan terlalu konyol untuk hanya menunggu seseorang. 

Terlalu konyol….ya itu yang dibilang oleh sahabat saya, konyol dan bodoh melepaskan seseorang demi mendapatkan sebuah jawaban dari orang di masa lalu yang kembali menyapa. Jujur, hingga di penghujung tahun ini saya masih merasakan sakit setiap namanya melintas dipikiran. 

laki-laki itu kembali datang, sekedar menanyakan kabar. Dan perempuan itu kemudian lupa karena merasa doanya terjawab, doa yang dia lantukan ditiap pergantian hari, doa yang diderasnya demi bertemu dengan lelaki itu. Perempuan itu lupa, pesta sebentar lagi digelar, perayaan akan janji seumur hidup yang kemudian dia ingkari. Perempuan itu mengabaikan segala hal demi bertemu dengan lelaki yang kembali menyapa, bahkan mengabaikan rasa sakit yang terus menggores. Jika saja laki-laki itu tau bahwa perempuan itu menunggunya di sekian ribu hari dan cukup bahagia dengan hanya melihat senyum yang ternyata bukan lagi untuknya. Jika saja laki-laki itu tau. 

Semua sudah berakhir di sore itu. Saya memberikan segala hal yang selama ini saya simpan untuk mengabadikan dia. Mengabadikan kehadirannya yang meski hanya sebentar namun cukup untuk membuat saya bertahan sekian tahun menunggunya demi sebuah jawaban atas pertanyaan “kenapa kau pergi Ung?” “Mengapa kau datang lagi Ung?” 

Di penghujung tahun ini, saya melihat lagi kebelakang, sekali lagi untuk yang terakhir kali. Segala hal kembali melintas seperti kaset-kaset tua. 

Saya tidak ingin lagi menjadi…

… perempuan yang menangis di dalam sebuah angkot ketika laki-laki yang dinantinya turun menuju ke sebuah tempat lain, ke tempat seorang perempuan yang membuatkannya bekal makan siang. 

… perempuan yang bahkan tak mampu bernapas ketika mengucapkan ” semoga sukses dengan perempuan itu” bahwa selepasnya saya terisak dan tidak peduli tatapan orang yang lewat. 

… perempuan yang memaki diri sendiri karena terlalu bodoh membiarkannya pergi demi seorang perempuan dengan kotak makan siang. Perempuan yang menyesal tidak pernah mengatakan bahwa saya pun mampu memberikannya lebih dari sebuah kotak makan siang. 

… perempuan yang menghabiskan waktu mereka-reka seperti apa pertemuannya. Perempuan yang masih berharap, perempuan yang memelihara harapan itu dan abai bahwa laki-laki yang ditunggunya tak pernah benar-benar ada untuknya, tak pernah menganggapnya ada

Saya tidak ingin menjadi perempuan yang menangis di kereta jurusan BandungJakarta karena mengetahui bahwa tahuntahun yang saya habiskan menunggunya itu adalah siasia. Menangis karena tau inilah akhir penantian, ini saat melepaskannya, melepas segala hal tentangnya, tentang dia yang selama ini yang saya tuju

Karena perempuan itu tak pernah menorehkan kisah apapun bagi laki-laki itu. Karena perempuan itu hanya serupa musim dingin yang diharapkan segera berlalu.

Tahun ini mengajarkan saya mengenai banyak hal, tapi segala hal itu muaranya satu; belajar memahami bahwa pemilik semesta tidak akan memberikan cobaan bagi umatnya diluar batas. Kenapa saya bilang ini cobaan? karena jujur ketika saya membayangkan dia bersama perempuan lain, rasa sakit yang asing datang. Saya pernah bertanya kepada seorang kawan kenapa yang lain cobaannya tuh ‘keren’ dan bikin mereka kuat ketika berhasil melewatinya, sedang saya, hanya gara masalah gini bisa nangis sampe mata bengkak. “Saya gak tau apakah bisa kuat jika tau dia menikah, mungkin saya hancur sih, ini perasaan gak akan sama” ucap saya. “Saya mau ke Afghnistan aja mau jadi volunteer disana, biar benar-benar bisa lupain dia” lanjut saya. 

Kawan saya hanya menjawab bahwa sejauh apapun saya lari, tetap akan menghantui. Hadapi saja, karena Tuhan tau batas kemampuanmu. 

Untuk tahun 2017, terimkasih atas ceritanya

hei 2018, mari bekerjasama saling menguatkan…

Advertisements

menghapus kamu

tanda titik telah tiba, tanda yang seharusnya sudah aku sematkan di hari ketika kau memutuskan untuk sudah…

Di tanggal yang sama lima tahun lalu tepatnya seminggu selepas kau memilih untuk berjalan sendiri, aku sibuk menyeka air mata, mempersiapkan pameran patah hatiku, yang kupikir bisa jadi penyembuh luka, yang kukira bisa menjadi penawar duka; nyatanya tidak. Selepas pameran, aku masih saja berusaha untuk melipat jarak agar bisa bertemu denganmu. 

Lima tahun setelahnya, kita kembali jumpa. Aku merasa menjadi perempuan paling bahagia di muka bumi, semesta mengabulkan doaku, doa yang kurapal ditiap pergantian hari, “aku ingin sekali lagi bertemu dengannya.” Meski kemudian aku harus menahan rasa sakit, aku meminta pada hati ini agar sedikit lebih kuat dari yang seharusnya, sedikit lebih sabar dari yang semestinya, karena aku tau pertemuan ini tak ubahnya sebagai pelengkap patah hatiku. Aku tau kau tak lagi sendiri, tapi saat itu aku hanya meminta waktu lebih bermurah hati karna pertemuan ini yang aku nanti selama lima tahun, meski aku harus terluka meski harus menahan tangis, dan hati yang mungkin sudah terlatih akan patah hati; bertemu denganmu adalah hal yang paling aku inginkan. 

8 Oktober 2017, 

Aku mengumpulkan segala keberanianku, tidak memperdulikan rasa takutku, ketakutan bahwa setelah hari ini aku tak bisa lagi bertemu denganmu. 

Aku tak berani menatapmu dan aku tak mampu menahan air mata yang selama ini aku tahan agar tidak mengalir ketika bertemu denganmu. 

terimakasih, terimakasih Ung telah datang dan mengisi hari-hariku, meski hanya sebentar. Ung adalah kado dari semesta untuk aku, agar bisa jadi lebih baik, agar menghargai hidup dengan baik. Terimakasih. 

Bumi perkemahan Sukamantri, 11 November 2017, 

Ung apa kau ada diantara kerlip lampu kota dibawah sana? apa kau sedang tidur sekarang? 

Sudah lama tidak merasakan tidur dibawah bintang, merasakan kedinginan, meresapi sunyi di belantara. Malam ini dari kaki gunung Salak, aku melihat lampu-lampu kota Bogor, dan aku mengira-ngira dari sekian ribu kerlip lampu itu, yang manakah lampu yang malam ini menemani tidurmu. 

Hujan mulai turun membasahi tendaku, aku merapatkan jaket dan kemudian larut dalam irama hujan; irama yang membawaku memutar kembali segala hal yang sudah aku lewati dan segala hal yang aku lewatkan. Aku mengingat lagi hal-hal tentang kamu Ung, dan kemudian aku menyadari sesuatu, hal yang selama ini aku abaikan atau mungkin aku coba abaikan. 

Selama kita bersama, kita tak pernah benar-benar menjadi kita. Bahwa aku yang berusaha untuk menjadi kita, sedang kau hanya diam. Kita tak pernah memiliki kenangan-kenangan, hanya puisi-puisi hambar, email-email yang dingin, pesan-pesan yang tak bermakna. Segala hal yang aku pikir memiliki arti ternyata tak berarti bagi kamu. Segala hal yang kusimpan sebagai kenangan, ternyata bukan kenangan untuk kamu. Aku menghidupi kenangan itu, aku membawanya selama ini karna aku takut kehilangannya, karna didalamnya ada kamu. 

Aku tidak pernah sadar, atau mungkin aku yang tidak mencoba untuk menyadari bahwa aku tidak pernah benar-benar menjadi seseorang untukmu Ung. Aku adalah masa lalumu yang tak pernah ada. 

Jakarta 12 November 2017, 

Hujan sore ini. Aku lupa kapan terakhir kali aku benar-benar menikmati hujan, tanpa keluhan, tanpa khawatir. Tapi sore ini aku benar-benar menikmati hujan, berjalan dibawah rintik hujan hingga kuyup. Aku benar-benar menikmati hujan sore ini. 
Aku memutuskan, ini saatnya menghapus semua tentang kamu, aku akan menghapus semua jejak-jejak tentangmu. Satu-satunya yang tak bisa aku hapuskan adalah ‘kamu yang membuat aku menjadi seperti sekarang, membuat aku menjadi orang yang kembali percaya kepada mimpi dan berusaha keras untuk mewujudkannya.’

Jika aku pernah mengatakan bahwa aku akan menukar apa yang aku miliki sekarang agar bisa kembali denganmu, aku menarik kembali ucapan itu karna yang tepat adalah ‘aku akan menjaga apa yang aku punya, apa yang aku capai sekarang, karna itu adalah hal terbaik yang kau ajarkan kepadaku, menjadi orang yang lebih baik.’ 
people came into our life for a lesson and a reason, and for me, you were both Ung, you taught me how to appreciate life and how to live my life even you were not aware of it, and you were not realize how it means so much for me. 

Selama ini aku mengira jika aku yang kehilanganmu, nyatanya, kaulah yang kehilanganku. Atau mungkin yang tepat adalah, kita tak benar-benar saling kehilangan, karna akulah yang selama ini menghidupi kenangan itu, karna kau tak pernah benar-benar menginginkan hadirku. Akulah yang hidup dalam kehilangan itu. 

Bersama hujan sore ini, aku larung segala hal tentangmu, kau tak ada lagi Ung, meski aku harus akui bahwa kau masih menghuni ruang di perasaan ini, tapi ruang itu tak lagi kukunjungi. Aku menutup ruang itu rapat-rapat, aku jadikan ruang itu sebagai kuil tua yang kelak akan lapuk seiring waktu. Aku bersepakat dengan waktu dan berjanji pada pemilik semesta untuk berbahagia!

Karena aku tak pernah ada didirimu, dihari-harimu, aku tak pernah jadi masa lalumu. Tanda titik pun tiba di akhir kalimat. 

Insecure

Kalau kata temen sih ada dua hal yang banyak sekali terdapat dalam tubuh manusia yaitu ego dan lemak.

Jujur pas dengar apa yang dia katakan itu antara bikin ketawa dan tertampar, yang akhirnya saya sadar bahwa memang dalam diri manusia ego itu sangat tinggi sekali dan ego itu benar-benar membahayakan sifatnya negatif seperti yang sekarang saya rasakan.

Akhir-akhir ini saya merasa sangat insecure tapi ini bukan masalah asmara karena kalau masalah itu udah selesai saya sudah tahu harus jalan kemana. Insecure yang saya rasakan saat ini menyangkut soal pekerjaan. Jujur saya menikmati pekerjaan saya, saya menikmati profesi sebagai seorang jurnalis disebuah TV besar. Tapi kemudian ada beberapa hal yang kemudian membuat saya bertanya, sudah puaskah saya? 

Puas itu memang bagian dari ego, ego saya memang lagi tinggi-tingginya, saya tidak tahu sudah berbuat apa? berkontribusi apa? sudah membuat karya apa? semua pertanyaan itu muncul dan saya tiba-tiba merasa tidak berguna. 

Perasaan tidak berguna itu muncul karena saya merasa terasing, merasa teralienisasi (jelas soalnya saya masih manusia, kalo udah jadi alien pasti merasa ‘termanusiasi’), Itu hal yang paling membuat saya merasa insecure saat ini.

Oke let me explain, jadi saya bergabung di sebuah desk (istilah didunia kewartawanan yang berhubungan dengan fokus liputan) yang cukup aktif berdiskusi, sayangnya karena saya jarang mendapat penugasan yang berkaitan dengan desk tersebut saya merasa tertinggal, gak tau apa-apa dan ujung-ujungnya merasa tidak berguna karena tidak berkontribusi apa-apa. 

Sempat saya dipasangkan dengan salah satu koresponden yang sangat aktif dalam satu liputan, tema liputan yang spesifik lebih tepatnya karena saya juga memiliki ketertarikan yang sama. Sayangnya setelah itu saya tidak pernah mendapat penugasan yang sama, saya sering ditempatkan di tempat-tempat lain yang ujung-ujungnya saya mengeluh dalam hati, selalu mengeluh dan jujur mengeluh itu tidak enak, lebih ke berdampak negatif ke diri sendiri. Keluhan saya karena saya tidak menyukai liputan yang lain selain desk yang saya inginkan,  saya tidak mengerti ekonomi, saya tidak mengerti tentang olahraga tapi saya meliputi hal-hal tersebut yang menurut saya membosankan. 

Jujur banget pengen balik lagi meliput hal-hal yang saya senangi, tapi setelah saya ngobrol dengan kawan saya malam ini, dia mengatakan bahwa ini masalah ego, mungkin saja kantor menilai saya harus belajar di tempat lain dulu sebelum kemudian balik lagi ke desk yang saya inginkan, mungkin saja saya harus memang berpindah-pindah ke desk yang lain untuk upgrade skill, upgrade ilmu saya, upgrade isu-isu yang lain. Dan mungkin ini salah satu cara untuk keluar dari zona nyaman, karena menurutnya zona nyaman itu adalah bahaya laten. Kita jadi tidak tahu hal-hal lain diluar kita, hal-hal lain disekitar. Memang itu bahaya sih karena sebagai wartawan harusnya kita tahu banyak hal, selain hal yang kita senangi. 

Sial tiba-tiba saya menangis gara-gara ini, karena memang saya tidak ingin mengerjakan hal-hal yang tidak saya sukai. Saya masih bertanya kenapa saya harus menjalani ini sedang yang lain ‘ditanam’ di satu isu sampai matang, jadinya saya merasa jadi ‘produk setengah matang’ and it sucks! 

Kawan saya mengatakan zona nyaman itu bahaya laten dan lagi-lagi ini adalah masalah ego saya, hanya pikiran saya saja. Jadi harus tetap berpikir positif. Kita bisa menilai diri kita sendiri, tapi ada orang lain yang juga bisa menilai diri kita dari apa yang mereka lihat. Sedikit banyak saya sadar, setelah ngobrol dengan kawan saya itu, bahwa kita bekerja dengan orang lain dan ada banyak pertimbangannya, tidak selamanya kita terus menerus mengerjakan hal-hal yang kita inginkan, kecuali kita bosnya!

 Ada banyak hal positif  yang bisa saya ambil dari ini semua, salah satunya bisa dapat fellowship dan ini menjadi tantangan juga buat diri saya sendiri untuk membuktikan bahwa saya mampu kok jika dipindah ke desk lain.  Nah! saya sudah bisa bilang bahwa saya mampu untuk ada di desk lain. 

Perjalan masih panjang, baru 2 tahun aja di sini udah ngeluh kayak gini, padahal mungkin ini adalah tantangan dari kantor, yang tidak pernah saya sadar jika kantor ingin melihat saya jauh lebih maju. Setidaknya kelak ketika saya bertemu dengan orang lain dan kita berbincang hal-hal diluar apa yang saya senangi, saya mampu untuk menjawab jadinya tidak malu-maluin diri sendiri khan, masak wartawan bego sih!

Walaupun dalam diri sendiri masih ada perasaan tidak rela sih, namanya juga manusia ya pasti ada perasaan tidak rela. Perasaan tidak rela itu yang menimbulkan rasa negatif sih sebenarnya dan balik lagi, ego kita menutupi hal-hal positif, ego kita itu menutupi hal-hal baik yang disiapkan semesta. Orang-orang di sekitar kita adalah orang-orang yang dikirimkan oleh semesta buat bantu kita untuk mencapai apa yang harusnya kita capai.

Poin dari panjangnya tulisan ini adalah “Kill your ego and keep your positive attitude!”

Thank you Mbak Sisim for a great conversations tonight 😛