Category Archives: puisi-puisi

Untuk sebuah mungkin

Mungkin dia adalah orang yang tak peduli akan konsep bahwa makna itu lahir dari hal-hal yang tepat waktu.

Mungkin dia tidak mengindahkan sebuah penantian…

Sedang saya sibuk menghitung butir-butir waktu, dan memberi makna di setiap pergantian hari

Mungkin itulah sebabnya dia berlari sedang saya berjalan perlahan

Pada akhirnya lupa pun hadir diantaranya. Dan ingatan tak lebih dari masa lalu yang usang

image

ingatan seperti apa….

jika kelak kau membaca deret-deret huruf yang merangkai kata-kata ini, ingatan seperti apa yang muncul dibenakmu? apakah kau membutuhkan sekian detik waktu untuk merangkai ingatan itu ataukah akan seperti kilat yang datang sekejap kemudian hilang dan hanya suara yang menggeletar tanda hadirnya?

sebagian mungkin berusaha untuk meneruskan perjalanan selepas perpisahan; sebagian kecil mungkin masih diam, menerka jalan seperti apa yang harus dilalui, dengan hati yang baru saja menghadapi perpisahan, dengan mata yang sibuk menahan lajunya air – dan saya; masih berdiri ditempat sama – menunggu.

kau memintaku untuk berbahagia. yakinlah bahwa kini saya bahagia, terlalu bahagia hingga saya membaginya pada setiap detik-detik waktu yang terus saja membawa bayangmu.

pernah ada satu masa, waktu begitu murah hati; membawa kamu yang nyata berdiri sekian detik dihadapanku – diantara banyak orang dan lampu-lampu, saya melihatmu ditengah keramaian. Layaknya bayang-bayang; kehadiranku mungkin tidak pernah kau sadari; seperti yang sudah-sudah, kau mungkin tidak akan pernah sadar. Saya masih ingat dengan jelas bahwa kau tidak bisa merasakan hadirku – entah siapa yang menjauh, saya atau dirimu?

ketika kau membaca barisan-barisan kalimat ini, ingatan seperti apa yang hadir dibenakmu? ataukah tak ada sama sekali?

saya masih mengingat dengan jelas sudut-sudut kota yang pernah kita lalui, lagu-lagu yang sering kita bicarakan, buku yang kita perdebatkan, dan…bagaimana kau menciumku – lembut dan manis.

ahh bukan, bukan sekedar ingatan seperti itu saja. Tapi ingatan tentang kamu yang memberi segala hal, segala hal yang sering saya tuliskan dalam larik-larik puisi, pada lengkung senyum akibat sapamu di pagi hari dan detak jantung yang belajar menahan rasa asing dan rasa sakit.

sebagian mungkin – selepas perpisahan – mulai berjalan, menyusun lagi apa-apa yang harus dilakukan ketika sunyi dan sendiri datang. Saya pun yakin bahwa kamu sudah berjalan jauh dengan peta yang kau buat atas dirimu – sedang saya seringkali mengunjungi tempat dimana kita berpisah. Tenang saja, saya tetap meneruskan hidup; menggambar peta perjalanan (dan tentu saja meletakkan kisah kita didalamnya). Katakan saja saya pengecut, pengecut untuk menghadapi kenyatan bahwa kita tak lagi seiring. Tapi percayalah setiap dari kita punya cara masing-masing untuk bahagia; dan ini cara saya bahagia…menunggu.

saya menunggu untuk melihatmu bahagia, melabuhkan hidup pada wanita yang akan melahirkan anak-anak lucu yang terus berlarian disekitarmu. melihatmu bahagia dengan satu per satu mimpi yang terwujud, bahagia dengan sederhana dan indah. saya menunggu meski tak ada bagian untuk saya dalam bahagiamu. Seperti yang saya katakan tiap orang memiliki jalan masing-masing untuk bahagia.

kelak ketika kau membaca tulisan-tulisan ini, tolong katakan ingatan seperti apa yang hadir dibenakmu?

jika kau berjumpa sepi…

jika sepi datang, katakan padanya saya sudah pindah, kunci pun kubawa serta agar dia tidak bisa masuk… (Jay and Gatrawardya)

hari ini, jika hari ini kau berjumpa dengan sepi yang terburu-buru datang, tolong katakan padanya bahwa saya sedang berkemas; mengemasi segala hal tentang ingatan – ingatan yang harus segera dikemas sebelum luruh dalam lupa.

katakan pada sepi, tak ada siapapun disini, tak ada siapapun bahkan apapun yang bisa duduk menemaninya berbincang tentang waktu yang mundur, waktu yang mengawang-awang dalam pengandaian.

jika sore nanti kau berjumpa dengan sepi, katakan padanya ada senja yang ingin lekas disapa sebelum menyerah pada gelap. senja yang sudah berjalan terlalu jauh, saya ingin sekedar mencoba merebut merahnya.

katakan pada sepi, ketika kau berjumpa dengannya di simpang jalan; bahwa jika pun dia datang yang ditemuinya hanya lengkung senyum yang tak berubah dari dulu, dari waktu saya harus mengemas ingatan dan menyimpan kenangan.

katakan pada sepi, datang saja jika dia mau, mungkin saya masih sibuk memilih hal-hal yang patut untuk dilupakan, hal-hal yang akan saya ingat, segala hal yang terlalu banyak lahir dari detik-detik waktu.

jika kau berjumpa dengan sepi katakan saya akan terlalu sibuk mengulur rindu.