Category Archives: ung

Ketika Chester membuat saya bertahan

everyone has their own battle

Pagi tadi lini masa diramaikan dengan berita kematian vokalis Linkin Park, Chester Bennington. Chester dikabarkan mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri tepat di hari ulangtahun sahabatnya, Chris Cornell. 

Tentang bunuh diri

Menurut WHO, tahun 2015 ada sembilan juta kasus depresi yang terjadi di Indonesia. Jumlah ini menempatkan Indonesia sebagai negara kedua dengan kasus kejiwaan tertinggi di Asia Tenggara setelah India. Sayangnya belum ada penanganan yang benar-benar serius meski pemerintah telah memasukkan layanan psikiatri kedalam komponen yang dibiayao oleh BPJS, termasuk usaha melawan stigma negatif dari penderita gangguan kejiwaan. 

Kematian Chester Bennington kembali mengingatkan saya tentang keinginan untuk bunuh diri. Chester yang memiliki riwayat depresi akibat kekerasan yang dialami sejak kecil, ketergantungan alkohol dan obat-obat terlarang, sangat berbeda dengan saya yang tumbuh di keluarga yang normal dan menjalani kehidupan yang baik-baik saja. 

Tapi itu terlihat dari luar saja. Pernah ada satu masalah yang membuat saya sangat terpukul, untuk pertama kali saya melihat keluarga saya pelan-pelan hancur. Tiap malam mendengar ibu dan bapak bertengkar, adik yang menangis dengan sorot mata takut, dan saya yang pelan-pelan menjadi kakak yang pengecut. 

Awalnya saya malu untuk menceritakan masalah saya bahkan pada teman terdekat, hari-hari saya gunakan untuk melakukan hal-hal tak berguna, sampai kemudian saya memutuskan untuk ‘tinggal’ demi adik-adik. Saat itu saya pikir jika saya pergi, mungkin saya akan bebas dari semua masalah, tapi tidak bagi adik-adik saya, mereka akan mengalami sakit yang luar biasa hebat dan saya akan jadi pengecut selamanya. 

Saya memutuskan untuk tinggal. Chester memilih untuk pergi, tapi saya tidak mengatakan bahwa dia pengecut. Lagi-lagi tiap orang memiliki ‘pertarungannya’ masing-masing. Chester, selama hidupnya berperang melawan banyak hal, melawan musuh yang timbul dari dirinya. Dia menceritakan perjuangannya lewat karyanya, lewat lirik-lirik lagunya, dan akhirnya dia menyerah. 

Saya tumbuh bersama Linkin Park, saya merasakan emosi dan belajar untuk bertahan dengan lagu-lagunya. Saya memilih untuk bertahan. 

Setelah saya memutuskan bertahan

Bukan berarti saya menjadi orang paling hebat, tidak. Sampai sekarang saya masih terus bertahan, dengan segala ketakutan dan luka. Saya belajar menghidupi hidup terus menerus, membuat diri ini semakin memiliki jiwa-jiwa manusia. Kemudian saya mengetahui bahwa banyak orang yang berniat untuk bunuh diri bahkan seseorang yang hingga kini masih berada dalam hati dan pikiran saya. 

Suatu sore dia menceritakan masa kecil dan kehidupannya, sampai dia mengucapkan sebuah keinginan seandainya saja dia tidak pernah dilahirkan. Jika saja dia tau, saat dia mengucapkan kalimat itu ingin rasanya saya berteriak didepannya dan mengatakan “jangan jadi pengecut, karna aku pernah jadi pengecut!” 

Tapi kemudian saya sadar bahwa dia membawa luka masa lalu dan dia bertahan hingga saat ini itu sudah hebat. Saya berkata padanya bahwa hidup jangan sekedar dijalani, tapi juga dihidupi. Cara terbaik adalah memaafkan, seperti saya yang memaafkan diri saya sendiri dan memaafkan keluarga saya, biar bagaimanapun karena mereka saya ada dan mereka adalah alasan saya untuk terus bertahan dan tidak pernah menyerah. 

Saya harap dia pun tidak pernah menyerah. Tidak akan pernah menyerah!

Sama seperti siapa pun yang membaca tulisan saya ini, carilah satu alasan diantara ribuan alasan yang membuat kalian ingin bunuh diri. Satu alasan yang bisa membuat kalian bertahan. Percayalah satu alasan itu sudah cukup. Setelahnya kalian akan mengerti bahwa hidup kalian itu sangat bermakna sekali, bahkan kalian adalah seseorang yang amat berarti bagi orang lain, bahwa diantara keputusasaan itu ada kalian yang bisa jadi harapan buat orang lain. 

Satu cara yang sering saya lakukan kepada – sebut saja mantan pacar – adalah dengan mengucapkan terimakasih. Terimakasih sudah hadir dihidupku, terimakasih sudah bersedia jalan bersisian bersama. Bahkan ketika dia memutuskan untuk tidak lagi berjalan beriringan, saya masih mengucapkan terimakasih. Itu cara saya agar dia bertahan untuk tetap mempertahankan hidupnya, agar dia tidak membiarkan pikiran-pikiran itu bermain dikepalanya. 

Sedang untuk saya, terimakasih adalah bentuk penghargaan terhadap diri sendiri, berterimakasih juga menjadi alasan untuk melihat senyum orang yang kita sayang. Mengucapkan terimakasih pada semesta juga mengajarkan saya menjadi kakak yang baik, kakak yang kuat agar bisa menjadi sandaran bagi adik-adiknya. ​

Chester mengajarkan kepada saya jika lelah maka beristirahatlah, tapi jangan berhenti, meski kemudian Chester memilih untuk berhenti dan berjuang bersama sahabatnya di kehidupan yang lain. 

Sekali lagi, jika kalian punya masalah apapun itu jangan pernah menyerah, dan jika kalian malu untuk bercerita dengan teman mengenai masalah-masalah yang kalian hadapi, cobalah menghubungi hotline bunuh diri yang dikelola oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia di 500-454. Ada juga LSM Jangan Bunuh Diri yang bisa dihubungi melalui email: janganbunuhdiri@yahoo.com, telepon: 021 9696 9293

Kalian juga bisa berbicara apa saja dengan saya melalui irine.wardhanie@gmail.com mari berbincang-bincang, mari bertahan bersama. 


selamat jalan Chester…you’ll be missed! 

Di musim kesekian

Senja telah berlalu dimusim ketika kau membalikkan punggungmu

Musim hujan terhenti di timur ketika anginku tak lagi mampu menyapamu

Di musim-musim berikutnya aku belajar mengeja hal-hal lain yang bukan tentangmu, meski terkadang abjadmu muncul disela-sela malam.

Di musim lainnya, tak lagi kudapati dirimu, bahkan kabut pun tak lagi menyerupai bayangmu.

Dan di musim setelahnya, aku menggenggam hal lain yang tak lagi serupa denganmu.

Musim-musim tanpa senja dan aku baik-baik saja. Musim yang tak lagi menanti hujan dan aku masih baik-baik saja.

Musim demi musim berlalu dan aku masih terus baik-baik saja, hingga di musim yang kesekian kau kembali berdiri dihadapanku dengan senyum yang sama dengan tangan yang masih dingin.

Di musim yang kesekian membawaku kembali mengeja namamu yang ternyata belum aku lupakan. Di musim kesekian aku kembali menelusuri ingatanmu dan tiba-tiba rasa sakit menyeruak, memenuhi udara. Rasa sakit yang selalu tak kuhiraukan, rasa yang kupendam dalam balutan kalimat ‘semua akan baik-baik saja’

Di musim yang kesekian ini aku mendapatkan jawaban mengapa kau pergi, mengapa kau pergi, mengapa kau pergi.

Di musim yang kesekian dan rasa sakit yang terpendam memberiku jawaban bahwa aku tidak pernah ada dihatimu, tidak pernah menjadi musimmu, tak mampu menjadi senjamu. Bahwa aku hanya hujan yang mengganggu harimu dan anginku hanyalah desir yang penuh debu.

Di musim yang kesekian

Aku hanyalah musim dingin yang ingin kau lupakan

Setelah lima tahun

Setelah lima tahun akhirnya kita bertemu lagi, berbincang lagi, bertatapan lagi…setelah lima tahun. Kamu masih sama saja, cara jalanmu, setiap perkataanmu, senyummu, dan tanganmu yang dingin yang dulu pernah menggenggam tanganku. lima tahun lalu kamu menghuni sebagian hati dan pikiranku, meninggalkan jejak yang jujur hingga detik ini masih sering aku jaga, agar waktu tak bisa menghilangkannya begitu saja.

Aku pernah berkata, waktu adalah karib dan saat kamu pergi aku masih akan baik-baik saja. Dan ya, ketika malam itu aku berdiri dihadapanmu, aku merasa jauh lebih baik. Sejenak kuulurkan ingatanku tentangmu, tentang kita yang harus berhenti, tentang kamu yang pergi, dan tentang aku yang terus menyimpan tanya.

Masih saja, aku masih harus menahan rasa yang membuncah didada saat melihatmu. “Sial, dia masih sama tak banyak berubah.” Umpatku dalam hati.

Setelah lima tahun, aku sudah berjalan lagi, meski kadang sering kukunjungi kenangan itu hanya untuk mengingat kembali hal-hal yang menyenangkan, mengingat kembali detik kepergianmu dan bagaimana aku mencoba untuk tetap baik-baik saja.

Setelah lima tahun dan kau masih saja menyimpan luka yang tak pernah kau obati. Bahkan luka itu terus membesar.

Apa kau bahagia? tanyaku. Dan kau hanya tersenyum.

Setelah lima tahun, rasanya aku ingin memelukmu dan berkata “bagilah bebanmu denganku, sama seperti lima tahun lalu. Beban yang tak sedikitpun kau izinkan aku untuk memegangnya.”

Setelah lima tahun,

Akhirnya kau menjawab semua tanyaku, tentang keputusanmu pergi, tentang mengapa kita harus berhenti, tentang kamu yang hilang dan aku yang menunggu.

Semua pertanyaan yang selama ini tidak pernah aku tanyakan, karena tak ada keberanianku untuk bertanya.

Setelah lima tahun…aku lega…