di balik pintu

Di balik pintu itu,

sebuah ruang yang kering meranggas terbakar terik hari, senja tak jua datang

ruang yang menanti hujan, agar teduh bisa dirasakan barang sejenak

ruang yang entah diberi nama apa, ada di balik pintu itu

ruang yang lengang, yang angkuh menjulang diantara menara-menara lain

ruang yang berubah menjadi suar bagi yang sesat di belantara tanya

Di balik pintu,

tak ada apa-apa pun tak ada siapa-siapa yang tinggal

meski kisah tertoreh di dinding di balik pintu, penulisnya telah larut dalam rindu yang membunuhnya pelan-pelan, mengubahnya menjadi sarang laba-laba yang ditenun waktu

jika kau berkenan, berbaliklah dan berbicaralah apa yang telah kau lalui di hari kemarin, tentang musim dingin di senja yang abu-abu, tentang hujan di negeri pelangi.

berbaliklah dan ingat lagi, percakapan di pagi yang menggigil, dan tentang kota yang terburu-buru,

di balik pintu itu,

hanya ada rasa dingin yang menyeruak, dan seorang asing yang menanti hingga dia berubah menjadi laba-laba.

Advertisements

there is…

there is a boy who standing in front of the girl, asking her to love him

and the girl who standing in front of that boy just hold her breathe as she feel empty inside

that boy who standing in front of the girl is waiting for answer, while the girl is also waiting for something that already gone.

and the girl said “sorry.” the boy who standing in front of the girl just said “thank you!” and he walked away, leaving the girl. 

there is a girl waiting for someone that she loved for years, even she knew he never came back.

inspired by Notting Hill

Dear…

namamu adalah sederet doa yang kurapal setiap hari,

beri kesempatan untuk sekali lagi kuulur kenangan itu, agar aku sedikit lebih lama berdiri disampingmu, menghitung berapa banyak detik yang jatuh sebelum kita berakhir…

namamu adalah sederet huruf yang aku eja di tiap pagi,

seperti kaset tua yang aku putar berkali-kali, kenangan-kenangan yang tidak banyak yang membuatku bertahan sekian tahun hanya demi melihatmu di ujung jalan…

Dear Ung, 

namamu adalah petunjukku untuk pulang, sekali lagi untuk aku pulang dan kembali merasakan pahitnya kehilangan…