Tag Archives: life

Bullying

Bullying atau perundungan lagi marak saat ini. Sebenarnya ini bukan hal baru cuma gara-gara media sosial aja kasus ini banyak menyita perhatian. Coba deh dijeberin semua orang pasti pernah menjadi pelaku dan korban bullying, termasuk saya. Saya pernah berada di posisi pelaku dan di posisi korban.

Sebagai korban bullying pertama kali saya alami waktu SD, sampai sekarang sebel banget sama kakak kelas yang namanya saya tidak tau. Status saya waktu itu anak pindahan, karena sering banget ngikutin bapak yang sebagai abdi negara pindah-pindah jadi mau gak mau ya sekolah pun pindah-pindah. Nah suatu hari si kakak kelas ini dan gengnya (halah masih SD aja udah ngegeng!) isengin saya, mereka nempelin kotoran ayam di seragam sekolah saya. Asli bau paraaahhh!! untung udah jam terakhir sekolah dan saya bergegas pulang ke rumah nenek. Ya waktu itu saya tinggal di rumah nenek di Makassar. Bude pun langsung mencuci seragam saya karena bau banget. Sejak saat itu saya punya perasaan marah dengan kakak kelas saya, tapi karena cuma beberapa bulan aja di Makassar jadi saya gak pernah tau namanya itu orang siapa, pun kalo tau buat apa ya, toh gak bisa diguna-gunain juga.

Masih dengan status anak pindahan, saya  pun pindah ke sekolah terpencil di Manado. Disini pun awalnya saya di bully dengan tidak diberikan tempat duduk. Setiap saya mau duduk pasti disuruh minggir. Yaaa sekolah ini juga kekurangan bangku sih namanya juga SD Inpres, tapi gak pake digeser-geser sampai  mesti berdiri juga kaliiii….karena sebel saya pun mengadu ke ibu perihal tidak dapat tempat duduk. Oh ya di keluarga saya ada doktrin yang mengatakan bahwa duduk dibelakang adalah tempat duduk setan, jadiiiii saya yang penakut ini selalu harus duduk didepan dengan cara apapun. Lagian emang enak didepan sih, gak berisik.

Sampai suatu hari saya ke sekolah dan dapat tempat duduk didepan, plus teman-teman tiba-tiba berubah jadi baik. Kenapa ya? Saya aja heran sampai sekarang. Oh ya satu lagi, mereka suka sekali berbagi makanan dengan saya, padahal saya bawa bekal dan karena gak pernah dikasih uang saku jadinya mereka selalu beliin saya jajanan. Ibu selalu tau kalo saya jajan sembarangan pasti sakit perut dan sampai sekarang itu sering saya rasakan. Duuh perut manja amat sih gak suka makanan yang agak hmmm agak kurang bersih…

Itu tergolong korban bully gak? bagi saya iya, soalnya ada perasaan sedih, marah, gak ada teman, pokoknya paling menderita sedunialah. Perasaan itu kadang masih saya rasakan daaaaaannnnn saya pun menjadi pelaku bullying. Jujur ketika menuliskan bagian ini saya merasa amat malu dan kecewa pada diri sendiri. Kenapa? karena ketika menjadi pelaku bullying, perasaan yang ada justru menyesal. Serius sampai sekarang jika saya ada kesempatan saya ingin bertemu dengan teman-teman yang pernah saya bully dari SMP hingga SMA, untuk minta maaf. Tapi saya gak punya nyali untuk melakukannya.

Oke, sewaktu menjadi pelaku bullying apa yang saya rasakan? puas? tidak juga. Hanya karena ingin diterima oleh lingkungan dan teman-teman, saya mengikuti apa yang mereka lakukan, meski saya tidak pernah menyerang secara fisik tapi ucapan-ucapan yang saya lontarkan itu pun pasti menyakitkan, sikap membiarkan dan melihat para korban ketika di bully pun itu salah. Jelas salah.

Saya bukan tergolong siswa yang pintar disekolah, tapi sering masuk kelas unggulan iya, masuk 10 besar pernah beberapa kali, jadi wakil sekolah dibeberapa perlombaan pernah, duduk di OSIS iya, ikut ekskul paling bergengsi dan bisa mewakili sekolah pun pernah, punya teman yang banyak, tergolong anak gaul sekolah. Tapi itu semua belum cukup. Butuh pengakuan lebih dan melakukan bully terhadap teman lain adalah salah satu bentuk pengakuan yang dicari.

Kalau ditanya pengakuan macam apa sih? saya juga tidak bisa jawab. Mungkin pengakuan untuk jadi siswi terbaik, terkece, terkeren, ter…….lainnya, atau mungkin jadi siswi yang paling ditakuti atau disegani. Entahlah!

Tapi semakin dewasa saya sadar itu salaaaaaahhh bangeeetttt..makanya saya bilang tadi jika punya kesempatan saya ingin meminta maaf pada teman-teman yang pernah saya singgung perasaannya.

Ketika saya pindah sekolah (lagi) saya pun berjanji pada diri sendiri bahwa saya ingin benar-benar memperbaiki diri dengan cara menghargai siapa pun, mendengarkan apapun yang mereka ceritakan, karena kita tidak pernah tau apa yang harus mereka lalui hingga bisa bertahan menghadapi hari, bertahan untuk tetap waras, bertahan untuk mempertahankan dan memperjuangkan apa yang mereka inginkan.

Masing-masing orang punya keterbatasan, dan setiap orang adalah pejuang bagi dirinya sendiri. Saya pun pelan-pelan belajar hal itu, dan untungnya di lingkungan sekolah yang baru, saya bisa mendapatkan pelajaran itu semua. Saya tidak lagi berpikir bagaimana menjadi siswi yang keren, yang jago dalam banyak hal, yang gaul, yang punya teman banyak dan lainnya. Saya hanya berpikir bagaimana kemudian menjadi berarti buat orang lain, sekolah yang bener, kuliah dan mengejar cita-cita yang Alhamdulillah yaa kesampaian juga cita-cita saya dan pekerjaan saya sekarang ini membutuhkan semua perasaan menghargai tanpa menilai secara sepihak.

Keputusan pihak sekolah untuk mengeluarkan mahasiswa dan siswa yang melakukan bully kepada kawannya adalah keputusan yang salah. Saya lebih suka jika mereka dihukum untuk kerja sosial misalnya, daripada dikeluarkan. Karena, ketika mereka dikeluarkan tidak ada efek jera, yang ada hanya perasaan dendam dan kemudian mereka bisa saja melakukan kekerasan dilingkungan baru. Justru dengan dimaafkan maka mereka akan menjadi malu seperti saya, dan perasaan malu itu akan terus hidup dalam diri mereka dan memaksa mereka untuk menjadi orang yang jauh lebih baik agar tak terus menerus didera perasaan malu.

Ada perasaan duuhh kalau kelak saya punya anak mending home schooling aja deh daripada mereka jadi korban atau pelaku bullying. Tapi kemudian saya sadar bahwa anak-anak butuh diajarkan berbagai perasaan agar mekanisme pertahanan diri dan mental mereka bisa tumbuh. Saya sebagai orangtua akan menceritakan ‘kenakalan-kenakalan’ yang pernah saya lakukan dulu sewaktu remaja. Ini kenapa tiba-tiba nglantur soal anak deh…!!

Sebagai ‘penebusan rasa bersalah’ yang sampai saat ini saya rasakan, saya banyak melakukan kegiatan sosial. Banyak orang menganggap itu keren, padahal itu katarsis perasaan saja, bahwa saya pernah melakukan sebuah tindakan tidak terpuji. Bahkan kerja-kerja sosial yang saya lakukan pun belum cukup menghilangkan perasaan bersalah yang saya rasakan. Sampai sekarang saya masih bertanya-tanya bagaimana nasib teman-teman yang pernah saya bully? bagaimana keadaan mereka? apa mereka baik-baik saja? pertanyaan-pertanyaan itu menghantui saya, bukan cuma kenangan bersama mantan aja yang menghantui ya…

Anyway, Merasa keren dengan melakukan kekerasan itu tidak keren sama sekali. Percaya deh!

Please stop bullying! lebih baik energinya dipake untuk ikut paduan suara atau paskibra, sama-sama capek tapi jauh lebih bermanfaat, atau ikutan pramuka belajar bahasa sandi berguna tuh untuk kirim kode ke gebetan atau mantan!

Salam,

 

Irine

 

Di musim kesekian

Senja telah berlalu dimusim ketika kau membalikkan punggungmu

Musim hujan terhenti di timur ketika anginku tak lagi mampu menyapamu

Di musim-musim berikutnya aku belajar mengeja hal-hal lain yang bukan tentangmu, meski terkadang abjadmu muncul disela-sela malam.

Di musim lainnya, tak lagi kudapati dirimu, bahkan kabut pun tak lagi menyerupai bayangmu.

Dan di musim setelahnya, aku menggenggam hal lain yang tak lagi serupa denganmu.

Musim-musim tanpa senja dan aku baik-baik saja. Musim yang tak lagi menanti hujan dan aku masih baik-baik saja.

Musim demi musim berlalu dan aku masih terus baik-baik saja, hingga di musim yang kesekian kau kembali berdiri dihadapanku dengan senyum yang sama dengan tangan yang masih dingin.

Di musim yang kesekian membawaku kembali mengeja namamu yang ternyata belum aku lupakan. Di musim kesekian aku kembali menelusuri ingatanmu dan tiba-tiba rasa sakit menyeruak, memenuhi udara. Rasa sakit yang selalu tak kuhiraukan, rasa yang kupendam dalam balutan kalimat ‘semua akan baik-baik saja’

Di musim yang kesekian ini aku mendapatkan jawaban mengapa kau pergi, mengapa kau pergi, mengapa kau pergi.

Di musim yang kesekian dan rasa sakit yang terpendam memberiku jawaban bahwa aku tidak pernah ada dihatimu, tidak pernah menjadi musimmu, tak mampu menjadi senjamu. Bahwa aku hanya hujan yang mengganggu harimu dan anginku hanyalah desir yang penuh debu.

Di musim yang kesekian

Aku hanyalah musim dingin yang ingin kau lupakan

dua kartu ditangan saya

“setidaknya kamu tau habis mendengar cerita ini kamu akan memiliki dua kartu ditanganmu”

itulah kata seorang kawan sehabis menceritakan sesuatu…dan saya tersenyum lebar seolah-olah saya memang memegang dua kartu itu. aaiihh bukankah hidup itu memang sebuah pertaruhan, layaknya judi saja saya ini.

sedikit menyesal mengapa tidak dari awal saya tahu cerita ini, ada sesal yang mampir dan saya pun memaki kebodohan saya….memang benar kata banyak orang bahwa kita hanya bisa menyesali setelah apa yang kita punya pergi….

saya memiliki dua kartu ditangan, rasanya ingin cepat-cepat saja membuka kartu itu menantangnya…lebih baik seri dan kita main lagi dari awal dan saya ingin cepat-cepat membuka kartu saya…

sabar…sabar saja…hidup itu judi, jangan terburu-buru agar tak salah langkah, siapa tahu kartu yang dipegangnya punya nilai lebih sehingga saya kalah…tunggu sebentar….

nikmati saja saat-saat jeda ini….setidaknya ada usaha terakhir untuk bertaruh….hidup memang dipertaruhkan…

 

terimakasih untuk kawan saya yang memberikan satu kartu bantuan itu

haloooo…apakah kalian bahagia?

sore tadi sepulangnya dari museum Affandi, tempat kerja saya yang baru, saya bergegas menjemput adik saya di tempat kerjanya, kegiatan rutin yang saya lakukan hampir tiap hari…..

sore tadi,

sebelum latihan taekwondo saya mampir kesebuah panti asuhan yang akhir-akhir ini sering saya datangi, sekedar untuk mengunjungi adik-adik disana, membacakan dongeng atau sekedar mendengar celotehan mereka.

dan gadis kecil itu berlari menghampiri saya, rambut panjang yang tak tersisir rapi bergoyang seiring langkah kecilnya….tangannya memeluk kaki saya, karena tingginya tak mampu menggapai pundak saya. saya lalu menggendongnya memasuki ruang kecil di panti asuhan itu….

“yeaayy mba Irine datang lagi…” soraknya dan anak-anak kecil lain pun mengerubungi saya. tak lama saya pun mengeluarkan buku cerita anak dari tas ransel hitam saya, dan mulai membacakan cerita untuk mereka.

sudah pukul 17.30, dan saya pun pamit kepada pengurus panti asuhan yang sedari tadi disibukkan oleh tingkah laku anak-anak lain yang tidak ikut mendengarkan saya membacakan cerita.

gadis kecil yang saya gendong tadi tiba-tiba ngambek, dia memegang tangan saya erat sekali, dan dia pun bertanya kenapa saya harus pulang secepat itu. saya pun menjawab bahwa saya harus latihan dan tidak baik kalau sering bolos latihan. saya menjawabnya dengan jawaban sederhana agar dia paham.

dia memeluk kaki saya, dan saya pun berjongkok untuk menciumnya.

“mba Irine, apa bedanya senang dan bahagia?” tanya gadis kecil itu

saya pun terdiam, sekian detik saya mencoba mencari jawabannya.

apa bedanya senang dan bahagia? pertanyaan itu menggema di pikiran saya….

saya tak bisa menjawabnya, saya pun memeluknya…jujur saya tak bisa menjawabnya…

halooo apakah kalian bahagia? hari ini? kemarin? besok? apakah bahagia itu ada? dimana bahagia bersembunyi? apakah sembunyi di keping waktu yang tersisa?
 

saya pun bersiap-siap untuk pergi, pergi ke dojang….dan gadis kecil itu pun berkata

“mba, apa mba sedang bahagia?”

sambil menyalakan motor saya pun mengangguk…

sepanjang perjalanan, saya memikirkan pertanyaan gadis kecil itu….

apakah saya bahagia?

kemarin, kawan saya bertanya, apa sih bahagia itu? saya bahkan tak bisa mengerti bahagia itu seperti apa, saya hanya bisa merasakannya saat orang yang saya sayang bahagia, apa seperti itu bahagia? lalu apa bedanya dengan perasaan senang?

dan saya ingin bertanya, apakah kalian bahagia?

1 Mei 2012 – hari (sial) yang harus disyukuri

“akan ada hari dimana saya masih bisa melihat matahari dan berkata, Thanks Lord for giving me one chance to live”

hari ini adalah hari yang memang sial dan amat sangat sial sekali di tahun 2012, entah kenapa dalam sehari saya hampir saja mengalami dua kali kecelakaan yang mungkin akan berakibat fatal.

sore hari saat saya sedang dalam perjalanan pulang dari kantor, suasana jalan kota Bantul memang sedang ramai-ramainya karena bertepatan dengan jam pulang kantor. tiba-tiba dari arah berlawanan datang sebuah truk pengangkut pasir yang melaju kencang dan melanggar marka jalan: truk itu masuk di jalur-ku. “mampus saya…astagfirullah!” ujar saya dalam hati, dan kemudian saya masuk ke bahu jalan dan jatuh di atas rumput-rumput basah….  “alhamdulillah” ujar saya, yang setelah menenangkan diri lalu meneruskan perjalanan.

hanya 20 menit setelah terhindar dari kecelakaan, saya harus kembali mengalami kejadian serupa…hampir saja tabrakan dengan pengendara motor lain yang ugal-ugalan dan memotong jalan saya. dan itu cukup membuat saya mengeluarkan kata-kata umpatan…..

hari yang aneh.

dan yang terakhir adalah kejadian yang cukup membuat saya bertanya-tanya ada apa dengan hari ini?

saat itu saya baru saja selesai latian taekwondo, setelah menitipkan Hugo (alat pelindung tubuh) di ruang natas, saya pun pulang. awalnya saya ingin mengantar salah seorang kawan sampai di kosnya, karena dia tidak pake kacamata dan cukup berbahaya jika dia naik motor sendirian di malam hari dengan penglihatan yang minim. tapi dia menolak, jadi saya pun langsung menuju ke kos kawan saya untuk mempersiapkan keperluan untuk kegiatan 1 buku untuk Indonesia esok hari.

entah memang sial atau memang saya yang butuh diruwat, saat sedang berkendara, tiba-tiba braaakkk dan saya sudah tersungkur di jalan. yep saya ditabrak dari sebelah kanan oleh pengendara motor yang lain yang langsung melarikan diri. motor saya rusak parah, dan ya saya bingung… ada apa dengan hari ini?

dibalik semua peristiwa hari ini , toh saya masih bisa bilang “untung aja” karena saya masih bisa berdiri, karena luka saya tidak parah, hanya memar-memar saja, saya masih bisa latian taekwondo, masih bisa nari, pokoknya masih bisa ini-itu, meskipun motor harus nginap di bengkel tapi saya masih bisa kemana-mana…..

apa lagi yang harus saya katakan kecuali ALHAMDULILLAH ya Tuhan…..

PS: terimakasih buat teman-teman yang sudah membanjiri timeline twitter saya dengan doa, :p maaf sudah membuat kalian khawatir hehehehhehe…luv youuuuuuuu