Tidak ada waktu yang tepat

IMG_20170827_110730

“tidak ada waktu yang tepat atau tidak tepat, hanya kau yang tau kapan waktunya” 

Suatu malam saya mendatangi kawan saya untuk mengukur jaket yang saya beli buat Ung, yang niatnya akan saya hadiahkan. Kawan saya bertanya mengapa selama 5 tahun saya belum bisa move on, saya diam, tidak bisa menjawab karena saya tidak memiliki jawabannya.

“Ada yang belum selesai didirimu, selesaikan,” kata kawan saya.

“Saya sedang menunggu waktu yang tepat,” ucap saya

“tidak ada waktu yang tepat, kau tidak sedang main panahan, segalanya ada ditanganmu kamu yang memutuskan,” ujarnya

************************************

Apa yang membuat saya bertahan dengan sikap Ung?

Seandainya Ung tahu, berapa kali saya mencoba untuk menyerah, tidak mengindahkan perasaan saya terhadap Ung, berusaha keras untuk mencoba lupa, terbiasa dengan luka, memaki diri sendiri kenapa saya mencintainya dengan keras kepala. Seandainya dia tahu, sejak hari dia memutuskan untuk menyudahi hubungan ini, saya menanam rasa marah dan rasa benci, tapi itu tak cukup untuk berhenti menunggunya.

Seandainya dia tahu, bahwa mengetahui ada perempuan lain yang menggandeng tangannya, membuatkan dia makan siang, memberi pesan sebelum tidur, itu seperti membuat saya semakin terluka. Tapi Ung tak perlu tahu dan tak harus tahu, dan saya tidak mau dia tahu.

Semalam saya berjumpa dengan kawan lama, kami berbincang banyak hal, nonton bola Indonesia VS Malaysia, sejenak lupa bahwa seharian tadi saya merasa Ung berada begitu dekat dengan saya, berada disekitar saya dan gilanya lagi, ada seorang yang amat sangat mirip dengan Ung di kereta dan saya selalu berdiri dibelakang orang itu, berharap dia benar Ung. Selintas ada rasa sakit di dada dan itu yang mendorong air mata saya keluar, membayangkan itu Ung yang berdiri dihadapanku dan tidak menyapa, ada perasaan ditolak, dihindari, tidak dianggap…itu yang sakit.

Perasaan seharian yang saya pendam akhirnya saya utarakan ke kawan saya, dan reaksi mereka..”Bodoh…bilang ke dia apa yang kamu rasakan..”

“Gak berani, takut dengan jawabannya, karena selama ini saya telah membuat jawabannya sendiri dikepalaku..” ucap saya

“Itu, itu yang membuat kamu gak bisa move on” ujar kawan saya.

“10 tahun lagi atau 20 tahun lagi, kamu akan menyesal tidak pernah mengatakannya, apapun jawabannya, setidaknya kamu sudah mengatakan apa yang ingin kamu katakan, hal yang kamu pendam selama sekian tahun.” lanjutnya lagi.

Saya mengambil tisu, karena mulai menangis lagi, mulai membenci diri saya sendiri kenapa begitu bodoh mencintai orang yang hanya sebentar singgah di hari-hari saya namun bisa terluka dengan hebat.

It’s not over until it’s over….

 

Advertisements

Bullying

Bullying atau perundungan lagi marak saat ini. Sebenarnya ini bukan hal baru cuma gara-gara media sosial aja kasus ini banyak menyita perhatian. Coba deh dijeberin semua orang pasti pernah menjadi pelaku dan korban bullying, termasuk saya. Saya pernah berada di posisi pelaku dan di posisi korban.

Sebagai korban bullying pertama kali saya alami waktu SD, sampai sekarang sebel banget sama kakak kelas yang namanya saya tidak tau. Status saya waktu itu anak pindahan, karena sering banget ngikutin bapak yang sebagai abdi negara pindah-pindah jadi mau gak mau ya sekolah pun pindah-pindah. Nah suatu hari si kakak kelas ini dan gengnya (halah masih SD aja udah ngegeng!) isengin saya, mereka nempelin kotoran ayam di seragam sekolah saya. Asli bau paraaahhh!! untung udah jam terakhir sekolah dan saya bergegas pulang ke rumah nenek. Ya waktu itu saya tinggal di rumah nenek di Makassar. Bude pun langsung mencuci seragam saya karena bau banget. Sejak saat itu saya punya perasaan marah dengan kakak kelas saya, tapi karena cuma beberapa bulan aja di Makassar jadi saya gak pernah tau namanya itu orang siapa, pun kalo tau buat apa ya, toh gak bisa diguna-gunain juga.

Masih dengan status anak pindahan, saya  pun pindah ke sekolah terpencil di Manado. Disini pun awalnya saya di bully dengan tidak diberikan tempat duduk. Setiap saya mau duduk pasti disuruh minggir. Yaaa sekolah ini juga kekurangan bangku sih namanya juga SD Inpres, tapi gak pake digeser-geser sampai  mesti berdiri juga kaliiii….karena sebel saya pun mengadu ke ibu perihal tidak dapat tempat duduk. Oh ya di keluarga saya ada doktrin yang mengatakan bahwa duduk dibelakang adalah tempat duduk setan, jadiiiii saya yang penakut ini selalu harus duduk didepan dengan cara apapun. Lagian emang enak didepan sih, gak berisik.

Sampai suatu hari saya ke sekolah dan dapat tempat duduk didepan, plus teman-teman tiba-tiba berubah jadi baik. Kenapa ya? Saya aja heran sampai sekarang. Oh ya satu lagi, mereka suka sekali berbagi makanan dengan saya, padahal saya bawa bekal dan karena gak pernah dikasih uang saku jadinya mereka selalu beliin saya jajanan. Ibu selalu tau kalo saya jajan sembarangan pasti sakit perut dan sampai sekarang itu sering saya rasakan. Duuh perut manja amat sih gak suka makanan yang agak hmmm agak kurang bersih…

Itu tergolong korban bully gak? bagi saya iya, soalnya ada perasaan sedih, marah, gak ada teman, pokoknya paling menderita sedunialah. Perasaan itu kadang masih saya rasakan daaaaaannnnn saya pun menjadi pelaku bullying. Jujur ketika menuliskan bagian ini saya merasa amat malu dan kecewa pada diri sendiri. Kenapa? karena ketika menjadi pelaku bullying, perasaan yang ada justru menyesal. Serius sampai sekarang jika saya ada kesempatan saya ingin bertemu dengan teman-teman yang pernah saya bully dari SMP hingga SMA, untuk minta maaf. Tapi saya gak punya nyali untuk melakukannya.

Oke, sewaktu menjadi pelaku bullying apa yang saya rasakan? puas? tidak juga. Hanya karena ingin diterima oleh lingkungan dan teman-teman, saya mengikuti apa yang mereka lakukan, meski saya tidak pernah menyerang secara fisik tapi ucapan-ucapan yang saya lontarkan itu pun pasti menyakitkan, sikap membiarkan dan melihat para korban ketika di bully pun itu salah. Jelas salah.

Saya bukan tergolong siswa yang pintar disekolah, tapi sering masuk kelas unggulan iya, masuk 10 besar pernah beberapa kali, jadi wakil sekolah dibeberapa perlombaan pernah, duduk di OSIS iya, ikut ekskul paling bergengsi dan bisa mewakili sekolah pun pernah, punya teman yang banyak, tergolong anak gaul sekolah. Tapi itu semua belum cukup. Butuh pengakuan lebih dan melakukan bully terhadap teman lain adalah salah satu bentuk pengakuan yang dicari.

Kalau ditanya pengakuan macam apa sih? saya juga tidak bisa jawab. Mungkin pengakuan untuk jadi siswi terbaik, terkece, terkeren, ter…….lainnya, atau mungkin jadi siswi yang paling ditakuti atau disegani. Entahlah!

Tapi semakin dewasa saya sadar itu salaaaaaahhh bangeeetttt..makanya saya bilang tadi jika punya kesempatan saya ingin meminta maaf pada teman-teman yang pernah saya singgung perasaannya.

Ketika saya pindah sekolah (lagi) saya pun berjanji pada diri sendiri bahwa saya ingin benar-benar memperbaiki diri dengan cara menghargai siapa pun, mendengarkan apapun yang mereka ceritakan, karena kita tidak pernah tau apa yang harus mereka lalui hingga bisa bertahan menghadapi hari, bertahan untuk tetap waras, bertahan untuk mempertahankan dan memperjuangkan apa yang mereka inginkan.

Masing-masing orang punya keterbatasan, dan setiap orang adalah pejuang bagi dirinya sendiri. Saya pun pelan-pelan belajar hal itu, dan untungnya di lingkungan sekolah yang baru, saya bisa mendapatkan pelajaran itu semua. Saya tidak lagi berpikir bagaimana menjadi siswi yang keren, yang jago dalam banyak hal, yang gaul, yang punya teman banyak dan lainnya. Saya hanya berpikir bagaimana kemudian menjadi berarti buat orang lain, sekolah yang bener, kuliah dan mengejar cita-cita yang Alhamdulillah yaa kesampaian juga cita-cita saya dan pekerjaan saya sekarang ini membutuhkan semua perasaan menghargai tanpa menilai secara sepihak.

Keputusan pihak sekolah untuk mengeluarkan mahasiswa dan siswa yang melakukan bully kepada kawannya adalah keputusan yang salah. Saya lebih suka jika mereka dihukum untuk kerja sosial misalnya, daripada dikeluarkan. Karena, ketika mereka dikeluarkan tidak ada efek jera, yang ada hanya perasaan dendam dan kemudian mereka bisa saja melakukan kekerasan dilingkungan baru. Justru dengan dimaafkan maka mereka akan menjadi malu seperti saya, dan perasaan malu itu akan terus hidup dalam diri mereka dan memaksa mereka untuk menjadi orang yang jauh lebih baik agar tak terus menerus didera perasaan malu.

Ada perasaan duuhh kalau kelak saya punya anak mending home schooling aja deh daripada mereka jadi korban atau pelaku bullying. Tapi kemudian saya sadar bahwa anak-anak butuh diajarkan berbagai perasaan agar mekanisme pertahanan diri dan mental mereka bisa tumbuh. Saya sebagai orangtua akan menceritakan ‘kenakalan-kenakalan’ yang pernah saya lakukan dulu sewaktu remaja. Ini kenapa tiba-tiba nglantur soal anak deh…!!

Sebagai ‘penebusan rasa bersalah’ yang sampai saat ini saya rasakan, saya banyak melakukan kegiatan sosial. Banyak orang menganggap itu keren, padahal itu katarsis perasaan saja, bahwa saya pernah melakukan sebuah tindakan tidak terpuji. Bahkan kerja-kerja sosial yang saya lakukan pun belum cukup menghilangkan perasaan bersalah yang saya rasakan. Sampai sekarang saya masih bertanya-tanya bagaimana nasib teman-teman yang pernah saya bully? bagaimana keadaan mereka? apa mereka baik-baik saja? pertanyaan-pertanyaan itu menghantui saya, bukan cuma kenangan bersama mantan aja yang menghantui ya…

Anyway, Merasa keren dengan melakukan kekerasan itu tidak keren sama sekali. Percaya deh!

Please stop bullying! lebih baik energinya dipake untuk ikut paduan suara atau paskibra, sama-sama capek tapi jauh lebih bermanfaat, atau ikutan pramuka belajar bahasa sandi berguna tuh untuk kirim kode ke gebetan atau mantan!

Salam,

 

Irine

 

Di musim kesekian

Senja telah berlalu dimusim ketika kau membalikkan punggungmu

Musim hujan terhenti di timur ketika anginku tak lagi mampu menyapamu

Di musim-musim berikutnya aku belajar mengeja hal-hal lain yang bukan tentangmu, meski terkadang abjadmu muncul disela-sela malam.

Di musim lainnya, tak lagi kudapati dirimu, bahkan kabut pun tak lagi menyerupai bayangmu.

Dan di musim setelahnya, aku menggenggam hal lain yang tak lagi serupa denganmu.

Musim-musim tanpa senja dan aku baik-baik saja. Musim yang tak lagi menanti hujan dan aku masih baik-baik saja.

Musim demi musim berlalu dan aku masih terus baik-baik saja, hingga di musim yang kesekian kau kembali berdiri dihadapanku dengan senyum yang sama dengan tangan yang masih dingin.

Di musim yang kesekian membawaku kembali mengeja namamu yang ternyata belum aku lupakan. Di musim kesekian aku kembali menelusuri ingatanmu dan tiba-tiba rasa sakit menyeruak, memenuhi udara. Rasa sakit yang selalu tak kuhiraukan, rasa yang kupendam dalam balutan kalimat ‘semua akan baik-baik saja’

Di musim yang kesekian ini aku mendapatkan jawaban mengapa kau pergi, mengapa kau pergi, mengapa kau pergi.

Di musim yang kesekian dan rasa sakit yang terpendam memberiku jawaban bahwa aku tidak pernah ada dihatimu, tidak pernah menjadi musimmu, tak mampu menjadi senjamu. Bahwa aku hanya hujan yang mengganggu harimu dan anginku hanyalah desir yang penuh debu.

Di musim yang kesekian

Aku hanyalah musim dingin yang ingin kau lupakan