Tag Archives: puisi

Di musim kesekian

Senja telah berlalu dimusim ketika kau membalikkan punggungmu

Musim hujan terhenti di timur ketika anginku tak lagi mampu menyapamu

Di musim-musim berikutnya aku belajar mengeja hal-hal lain yang bukan tentangmu, meski terkadang abjadmu muncul disela-sela malam.

Di musim lainnya, tak lagi kudapati dirimu, bahkan kabut pun tak lagi menyerupai bayangmu.

Dan di musim setelahnya, aku menggenggam hal lain yang tak lagi serupa denganmu.

Musim-musim tanpa senja dan aku baik-baik saja. Musim yang tak lagi menanti hujan dan aku masih baik-baik saja.

Musim demi musim berlalu dan aku masih terus baik-baik saja, hingga di musim yang kesekian kau kembali berdiri dihadapanku dengan senyum yang sama dengan tangan yang masih dingin.

Di musim yang kesekian membawaku kembali mengeja namamu yang ternyata belum aku lupakan. Di musim kesekian aku kembali menelusuri ingatanmu dan tiba-tiba rasa sakit menyeruak, memenuhi udara. Rasa sakit yang selalu tak kuhiraukan, rasa yang kupendam dalam balutan kalimat ‘semua akan baik-baik saja’

Di musim yang kesekian ini aku mendapatkan jawaban mengapa kau pergi, mengapa kau pergi, mengapa kau pergi.

Di musim yang kesekian dan rasa sakit yang terpendam memberiku jawaban bahwa aku tidak pernah ada dihatimu, tidak pernah menjadi musimmu, tak mampu menjadi senjamu. Bahwa aku hanya hujan yang mengganggu harimu dan anginku hanyalah desir yang penuh debu.

Di musim yang kesekian

Aku hanyalah musim dingin yang ingin kau lupakan

perempuan yang tak ingin memiliki muara

bersamaku kamu akan hancur, lebur seperti buih di samudra. berjalan bersamaku seperti mengarungi lautan yang tak memiliki muara…..
berhenti disini saja dan lanjutkan perjalanannmu, karena rindumu membebebani perahuku, aku hanya ingin berlayar, menangkap senja menanti fajar… 
karena bersamaku tak ada masa depan, aku hanyalah perempuan yang tak ingin memiliki muara, tak ingin bermuara. 

diam-diam, aku masih merindukanmu diam-diam

diam-diam, aku menulis sajak rindu untukmu diam-diam, maunya kuselipkan dibalik bantalmu agar saat bangun kau temukan aku dan sajak rinduku

sayang, aku hanya mampu merindumu dalam diam, bukankah kita memang terjebak dalam keterdiaman…

diam-diam aku akan menyelinap di mimpi mu, jika pun tak bisa aku akan menjelma menjadi ribuan detik yang seperti angin berputar didunia

jika kau bangun esok, tolong liat dibawah bantal mu, dibalik pintumu, didinding kamarmu, ada rindu yang kuukir diam-diam

diam-diam, aku masih merindukanmu diam-diam